Senin, 21 Januari 2013

Hermeneutika, Phenomenology dan Pengembangan Intuisi pada Pembelajaran IPA


1.    Hermeneutika dalam Pembelajaran IPA
Hermeneutika adalah konsep dasar komunikasi yaitu menterjemahkan dan diterjemahkan. Tidak ada pembelajaran IPA yang tidak menggunakan menterjemahkan dan diterjemahkan. Dalam hal spiritual biasa disebut dengan silaturahim. Sedikit orang yang memiliki visi dan misi karena belum terbuka. Menterjemahkan dan diterjemahkan dikatakan dalam bahasa sehari-hari belajar mengajar yang praktis berupa interaksi yaitu bagaimana mendorong atau mengembangkan interaksi dalam proses belajar mengajar IPA. Karena hakikat ilmu adalah interaksi. Hermeneutika adalah unggah-ungguh filsafat.









Sumber gambar: http://www.friesian.com/hermenut.htm

2.    Phenomenology dalam Pembelajaran IPA
Kata kunci phenomenology adalah “epoche” yaitu ada reduksi yang didalamnya mengandung abstraksi dan idealisasi. Sehebat-hebat percobaan apapun pada IPA sampai percobaan paling canggih seperti meluncurkan pesawat ke luar angkasa pasti dia melakukan reduksi atau abstraksi yaitu memilih fokus kepada yang ingin diteliti. Seperti juga pada penyulingan air, penyulingan air adalah abstraksi dan yang melakukannya adalah alat. Phenomenology adalah abstraksi, memasukkan ke dalam epoche kalau hati yang tenang, ikhlas, tidak mengalami godaan, tidak dalam keadaan kacau, dan tidak takut. Kalau dalam pikiran memasukkan epoche yaitu tidak prejudice atau tidak berpuruk sangka dalam artian Pure a Reason atau pikiran yang murni. Idealisasi mengganggap sempurna sifat yang ada sedangkan abstraksi melihat yang dipentingkan saja. Misalnya pembakaran pada belerang, abstraksi disini adalah melihat perubahan warna, tidak melihat hal lain. Menuju ke spesifik adalah abstraksi. Idealisasi mengganggap sempurna sifat yang ada artinya mau menyimpulkan ke tulisan bahwa sebuah zat jika dibakar sifatnya akan berubah warna, berubah bentuk, dll  ada sesuatu yang akan ditulis itu bersifat ideal, sehingga memperoleh rumusan, rumus tidak harus seperti matematika tapi dapat berupa sifat-sifat.

3.    Pengembangan Intuisi dalam Pembelajaran IPA
Ilmu pasti ada kategori. Intuisi anak kecil, remaja, orang tua, kakek, nenek adalah berbeda. Pengertian yang dihasilkan darikehidupan sehari-hari adalah intuisi. Intuisi tidak hanya berasal dari pengalaman saja tetapi juga dari kebiasaan. Intuisi ada di mana-mana ada intuisi anak kecil, intuisi pemula, intuisi orang tua, dll. Pada anak kecil yang baru belajar mengenai tubuhnya intuisi anak kecil nampak ketika anak tersebut ditanya “mana cantiknya?” maka ia akan tersenyum manis, ditanya “mana matanya?” maka ia akan mengedip-ngedipkan mata, ditanya “mana rambutnya?” maka ia akan memegang rambutnya, dan lain-lain.
Pengembangan intuisi pada pembelajaran IPA sangat diperlukan karena tanpa intuisi akan menghilangkan makna dari pembelajaran IPA tersebut. Intuisi pada anak harus dilatih dan dikembangkan, karena intuisi dapat mengembangkan ilmu, sains dan tekhnologi. Intuisis pada anak secara sadar atau tidak ada pada setiap anak. Tugas guru adalah melatih dan mengembangkannya. Jika tidak maka siswa akan kehilangan intuisinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar